About me

Foto saya
mahasiswa Universitas Gunadarma
Feeds RSS
Feeds RSS

Jumat, 25 Maret 2011

kebijakan moneter

Kebijaksanaan moneter

Kebijaksanaan moneter di Indonesia dikendalikan oleh Dewan Moneter.  Anggota-anggota Dewan moneter terdiri dari:
(1)  Mentri Keuangan (sebagai ketua Dewan moneter)
(2) Menteri Perdagangan ( sebagai anggota)
(3) Gubenur Bank Indonesia (sebagai anggota)
Sesuai dengan Undang-Undang No. 13 tahun 1968 pasal 9, Dewan Moneter membantu pemerintah dalam merencanakan dan menetapkan kebijaksanaan moneter dengan mengajukan patokan-patokan tertentu dalam rangka menjaga kestabilan moneter, pemenuhan kesempatan kerja, dan meningkatkan taraf hidup rakyat.
             
M Kebijaksanaan moneter adalah segala kebijaksanaan pemerintah di bidang moneter (keuangan) yang bertujuan menjaga kestabilan moneter dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kebijaksanaan moneter yang ditujukan oleh pemerintah untuk memengaruhi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Kebijaksanaan-kebijaksanaan ini bertujuan untuk menjaga kestabilan nilai uang. Kebijaksanaan-kebijaksanaan itu adalah:

  •   Kebijaksanaan diskonto : apabila Bank sentral (Bank Indonesia) menaikkan tingkat diskontonya atau discount rate policy (yaitu tingkat bunga yang dikenakan pada bank umum atas pinjaman dana yang diberikan), maka jumlah uang beredar cenderung berkurang. Sebaliknya apabila bank sentral menurunkan tingkat bunga diskonto, cenderung jumlah uang yang beredar bertambah.

  •   Kebijaksanaan pasar terbuka atau open market operation  : apabila pemerintah menghendaki menurunkan jumlah uang yang beredar, pemerintah harus menjual obligasi di pasar bebas. Kebijaksanaan ini di sebut “open market selling”. Sebaliknya jika pemerintah menghendaki bertambahnya jumlah uang yang beredar, pemerintah melakukan “open buying”, dimana Pemerintah/Bank sentral membeli kembali obligasi dari masyarakat. Dengan cara ini maka surat-surat berharga mengalir ke bank, sebaliknya uang yang beredar dimasyarakat semakin bertambah jumlahnya. Yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam kebijaksanaan pasar terbuka dengan mengeluarkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Sertifikat Pasar Uang. 

  •   Kebijaksanaan cash ratio atau kas rasio: cara baru untuk memengaruhi jumlah uang yang beredar di masyarakat, yaitu dengan cara mengubah-ubah minimum kas rasio. Bank Sentral umumnya menentukan angka banding minimum antara uang tunai dengan kewajiban giral bank.  Angka banding tersebut biasa disebut “minimum cash ratio” . Bila pemerintah menurunkan minimum kas rasio, maka dengan uang tunai yang sama bank dapat menciptakan uang lebih banyak dari jumlah sebelumnya. Sebaliknya jika pemerintah menghendaki untuk mengurangi jumlah uang yang beredar, pemerintah akan menaikkan minimum kas rasio bank, misalnya dari 20% menjadi 25%. 

  •  Kebijaksanaan kredit: melalui cara pemberian kredit secara selektif,  Bank Sentral (bank Indonesia) berusaha memengaruhi bank-bank umum dalam hal memberikan kredit kepada nasabah melalui berbagai maacam peraturan kredit.

Sumber : Ekonomi 2/Suradjiman; Christian Toweula.—Cet.1.—Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1997

gambar : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwyMgYU4hmrfhBnENrTRkU95M7TJsBnIrWl5w4yk5ISsmckMzqZ7GCTnxUijiqiQmE_OF1z7J7mq4RCiOA0Fww3uF453_6xsMVH2hv3ok2lwwMOQEDDlAKcSgziRpeNtrwMK6ktveJz8o/s1600/Uang04_KoinRecehWeb.jpg 



  

kebijakan fiskal


Analisis Kebijakan Fiskal

          Kebijakan fiskal. Perekonomian tidak selalu bergerak ke arah yang diinginkan. Untuk membawa perekonomian ke arah yang diinginkan tersebut pemerintah sering melaksanakan kebijaksanaan ekonomi makro. Yang dimaksud kebijaksanaan ekonomi makro (macroeconomic policy) adalah tindakan atau kebijaksanaan yang dijalankan oleh pemerintah dengan mempengaruhi variabel-variabel ekonomi.
          Masalah-masalah makro cukup banyak, antara lain: sumber-sumber daya yang tidak/belum dimanfaatkan sepenuhnya; fluktuasi ekonomi, inflasi, pengangguran dsb. Sedang tujuan yang ingin dicapai beragam pula, beberapa diantaranya adalah: tingkat pertumbuhan ekonomi yang memadai; penggunaan sumber daya tenaga kerja secara penuh; terhindarnya masyarakat dari goncangan-goncangan harga dan inflasi; distribusi pendapatan yang lebih adil dan merata, serta tujuan-tujuan umum lainnya.
          Untuk menghaddapi berbagai persoalan makro sekaligus mencapai sasaran-sasaran ekonomi makro tersebut ada dua kebijakan makro utama yang dapat di ambil, yaitu kebijaksanaan fiskal dan kebijaksanaan moneter. Kebijaksanaan ekonomi makro adalah salah satu kebijaksanaan ekonomi kakro yang dilaksanakan pemertintah dengan memanipulasi penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Dengan menambah atau mengurangi variabel-variabel yang dapat dikontrol oleh pemerintah , yaitu pajak (Tx), pengeluaran pemerintah (G) dan transfer (Tr), diharapkan masalah-masalah makro dapat diatasi dan sekaligus sasaran-sasaran ekonomi makro dapat pula dicapai.
Macam-macam kebijaksanaan fiskal:
1.   Kebijaksanaan anggaran berimbang
Kalau pajak mengakibatkan pendapatan nasional berkurang, maka transfer menyebabkan pendapatan nasional bertambah. Ini berarti seandainya pemerintah menetapkan kebijaksanaan menambah pajak dan transfer dalam jumlah yang sama, maka pendapatan nasional tidak akan mengalami perubahan.
2.   Kebijaksanaan fiskal built-in flexible
Dengan sistem built-in flexible ini jumlah pajak yang dikenakan bervariasi dengan pendapatan nasional. Artinya, jika pendapatan masyarakat kecil, jumlah pajak yang dikenakan juga kecil dan sebaliknya. Dengan cara seperti ini jumlah pajak yang dikumpulkan pemerintah dari masyarakat  biasanya sebanding (proporsional) denngan pendapatan nasional.
3.   Kebijaksanaan fiskal diskresioner
Secara sederhana kebijaksanaan fiskal diskresioner adalah kebijaksanaan pemerintah meningkatkan dan menurunkan pendapatan dan pengeluarannya dengan tujuan menciptakan suatu tingkat perekonomian yang diinginkan. Beberapa alternatif yang mungkin dilakukan ialah: (1) menaikan atau menurunkan pengeluaran pemerintah, (2) menaikan atau mengurangi pajak, dan (3) kombinasi dari kedua cara di atas.biasanya kebijaksanaan yang diambil tergantung dari permasalahan pokok yang dihadapi.


Sumber : penghantar ekonomi makro “Deliarnov”
Penerbit Universitas Indonesia (UI-PRESS), 1995

Jumat, 11 Maret 2011

curhat ku, kereta ku !

Curhat ku, kereta ku !!!

          Semenjak kuliah saya harus menggunakan jasa kereta api untuk tiba di kampus. Saya tinggal di kota Bogor sedangkan kuliah di Gunadarma Depok maka paling efektif menggunakan jasa kereta api. Biasanya saya membeli tiket kereta ekonomi atau ekonomi AC, harga tiket kereta api sangat terjangkau, tiket ekonomi untuk tiba ke kampus saya cukup Rp 2000, 00 saja, tiket ekonomi AC Rp 5.500, 00.Kalau kuliah pagi saya harus mempersiapkan stamina ekstra apalagi jika naik kereta ekonomi padatnya bukan main, untuk masuk saja kita harus berebut. 

sumber gambar : sekarsidan.wordpress.com

 Keadaan ini nampak biasa bagi pengguna kereta api ekonomi, kereta ekonomi memang banyak diminati oleh masyarakat karena harganya sangat terjangkau. Apabila saya menggunakan jasa kereta ekonomi jurusan Bogor-Jakarta/Tanah Abang,  pada pagi hari(umumnya jam berangkat kerja)  dan pulang kuliah pada sore hari (jam pulang kerja) keadaan keretanya seperti pada gambar ini. Jika ingin  irit ya paling tepat ya naik kereta ekonomi saja dengan harga Rp 2000,00 kita bisa wisata kuliner & belanja (banyak penjual makanan&barang-barang lain), beramal (ada pengamen & orang yang meminta-minta), bisa sauna keringat gratis karena berdesak-desakan (canda yoo :D). Bagi pengguna kereta ekonomi kita harus ekstra hati-hati pula karena tindak kriminal cukup tinggi.
 
          Menggunakan jasa  kereta api sangat efektif bagi saya yang berkuliah di Gunadarma Depok, harga tiketnya yang terjangkau, efisien waktu karena jika naik bus atau angkutan umum pasti macet sekali. Tetapi sangat mengesalkan jika kereta sudah mengalami gangguan teknis, saya bisa terlambat kuliah apalagi jika sedang ujian membuat panik saya saja, sehingga kita harus bisa memperhitungkan waktu supaya tidak terlambat saat ujian dan kuliah jika sewaktu-waktu kereta mengalami gangguan yang tidak terduga.

          Sebaiknya untuk para wanita jika hari sudah malam atau kondisi badan tidak sanggup naik kereta ekonomi, kita bisa naik kereta ekonomi AC atau kereta pakuan express yang tersedia  gerbong khusus wanita sehingga lebih nyaman. Saya berharap semoga jasa kereta api yang menjadi transportasi utama bagi banyak masyarakat bisa memperbaiki pelayanan jasa kereta api dalam hal teknis maupun non teknis.




Kamis, 10 Maret 2011

curhat ku pada puisi ini :)


Curhat ku tertuang di puisi ini J

Kenangan

Aku diam dalam keheningan malam
Memikirkan apa yang terjadi
Pada diri ini
Dan pada kehidupan ku

Setiap detik dan menit
Yang telah kulewati
Seakan ada sesuatu yang hilang
Dalam jiwa ini

Ya, aku kehilangan mu cinta
Aku kehilangan mu kasih
Begitu bodohnya aku dulu
Tak mengerti arti cinta mu

Sekarang saat kau tinggalkan aku
Aku merasa kehilangan belahan jiwa ku
Dan aku mengerti
Arti cinta sebenarnya

Sehingga terkadang di suatu waktu
Mengingat itu
Membuat diri ini terluka
Tentang kenangan indah masa lalu
Bersamamu 

Jumat, 25 Februari 2011

jenuh ya kuliah !


Jenuh ya kuliah !
Jenuh? Ya mungkin sebagian mahasiswa mengalami ini, tidak hanya mahasiswa yang sudah bertahun-tahun kuliah kemungkinan mahasiswa yang barupun mempunyai sisi jenuh. Yang saya alami sebagai mahasiswa yang baru saja mulai masuk semeter 2 , rasa malas sudah menghampiri apalagi masa kuliah itu lebih free. Semasa SMA , tidak masuk beberapa hari saja , siap-siap diintrogasi oleh wali kelas, BK(bimbingan kesiswaan) bahkan bisa di panggil orang tua kalau sudah keterlaluan sering cabut. Ini kuliah sudah tidak zaman seperti itu, tinggal kesadaran diri masing-masing saja. Kalau sudah jenuh kuliah ya mudah saja tinggal cabut dan cari kesenangan lain. 

          Kenapa jenuh? Banyak berbagai faktor yang mempengaruhi yang namanya kuliah resikonya di buat pusing oleh tugas, lelah, malas. Kalau tidak bisa manag waktu pasti akan repot ya!  Mau mengutip kata-kata dari salah satu dosen saya yang bernama HERRY SUSSANTO “kalau tidak mau dipusingkan oleh tugas kuliah lebih baik tidak usah kuliah saja sekalian!” ya memang benar kutipan tadi, memang tugas kita utama sebagai mahasiswa ya belajar, mengerjakan tugas,dan mengembangkan kreativitas kita masing-masing.

          Jenuh kuliah memang sudah lumrah dialami setiap mahasiswa tapi cara menghadapi kejenuhan itu dari masing-masing pribadi, kalau kita punya semangat dan mau berusaha keras pasti bisa tetap enjoy dan mendapat ipk yang memuaskan. Lain cerita kalau kejenuhan itu dijadikan alasan untuk bermalas-malasan kuliah, kan tidak lucu yoo kalau jadi mahasiswa abadi malah tambah jenuh saja terlalu lama kuliah. Orang bijak bilang untuk meraih kesusksesan memang membutuhkan pejuangan ekstra, iya walaupun jenuh kita harus mau berusaha semoga masa kuliah ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya dan bisa ikhlas menjalankan tugas sebagai mahasiswa.

Yang saya alami , jenuh juga kalau hanya kuliah pulang kuliah pulang, bagi yang berminat lebih baik menambah kegiatan organisasi dan apa saja pokoknya kegiatan positif di kampus, lumayan menambah teman, menambah pengalaman juga. Yap harus punya motivasi diri saja supaya tetap enjoy kuliah dan mendapat ipk yang memuaskan sehingga kesuksesan tercapai amin :).

Kata ketua kelas saya yang bernama Oo “kita sebagai mahasiswa buka penerus bangsa tapi pengubah bangsa ini menjadi lebih baik.” Amin :). Yoo TETAP SEMANGAT YA ! 
By sartika :)

Jumat, 18 Februari 2011

Keadaan Perekonomian Indonesia Sebelum Kemerdekaan


Keadaan Perekonomian Indonesia Sebelum Kemerdekaan

Belanda yang saat itu menganut paham Merkantilis benar-benar menancapkan kukunya di Hindia Belanda. Belanda melimpahkan wewenang untuk mengatur Hindia Belanda kepada VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), sebuah perusahaan yang didirikan dengan tujuan untuk menghindari persaingan antar sesama pedagang Belanda, sekaligus untuk menyaingi perusahaan imperialis lain seperti EIC (Inggris).
Untuk mempermudah aksinya di Hindia Belanda, VOC diberi hak Octrooi, yang antara lain meliputi :
1. a.Hak mencetak uang
2. b.Hak mengangkat dan memberhentikan pegawai
3. c.Hak menyatakan perang dan damai
4. d.Hak untuk membuat angkatan bersenjata sendiri
5. e.Hak untuk membuat perjanjian dengan raja-raja
Hak-hak itu seakan melegalkan keberadaan VOC sebagai “penguasa” Hindia Belanda. Namun walau demikian, tidak berarti bahwa seluruh ekonomi Nusantara telah dikuasai VOC.
Kenyataannya, sejak tahun 1620, VOC hanya menguasai komoditi-komoditi ekspor sesuai permintaan pasar di Eropa, yaitu rempah-rempah. Kota-kota dagang dan jalur-jalur pelayaran yang dikuasainya adalah untuk menjamin monopoli atas komoditi itu. VOC juga belum membangun sistem pasokan kebutuhan-kebutuhan hidup penduduk pribumi. Peraturan-peraturan yang ditetapkan VOC seperti verplichte leverentie (kewajiban meyerahkan hasil bumi pada VOC ) dan contingenten (pajak hasil bumi) dirancang untuk mendukung monopoli itu. Disamping itu, VOC juga menjaga agar harga rempah-rempah tetap tinggi, antara lain dengan diadakannya pembatasan jumlah tanaman rempah-rempah yang boleh ditanam penduduk, pelayaran Hongi dan hak extirpatie (pemusnahan tanaman yang jumlahnya melebihi peraturan). Semua aturan itu pada umumnya hanya diterapkan di Maluku yang memang sudah diisolasi oleh VOC dari pola pelayaran niaga samudera Hindia.
Dengan memonopoli rempah-rempah, diharapkan VOC akan menambah isi kas negri Belanda, dan dengan begitu akan meningkatkan pamor dan kekayaan Belanda. Disamping itu juga diterapkan Preangerstelstel, yaitu kewajiban menanam tanaman kopi bagi penduduk Priangan. Bahkan ekspor kopi di masa itu mencapai 85.300 metrik ton, melebihi ekspor cengkeh yang Cuma 1.050 metrik ton.
Namun, berlawanan dengan kebijakan merkantilisme Perancis yang melarang ekspor logam mulia, Belanda justru mengekspor perak ke Hindia Belanda untuk ditukar dengan hasil bumi. Karena selama belum ada hasil produksi Eropa yang dapat ditawarkan sebagai komoditi imbangan,ekspor perak itu tetap perlu dilakukan. Perak tetap digunakan dalam jumlah besar sebagai alat perimbangan dalam neraca pembayaran sampai tahun 1870-an.
Pada tahun 1795, VOC bubar karena dianggap gagal dalam mengeksplorasi kekayaan Hindia Belanda. Kegagalan itu nampak pada defisitnya kas VOC, yang antara lain disebabkan oleh :
a.Peperangan yang terus-menerus dilakukan oleh VOC dan memakan biaya besar, terutama perang Diponegoro.
b.Penggunaan tentara sewaan membutuhkan biaya besar.
c.Korupsi yang dilakukan pegawai VOC sendiri.
d.Pembagian dividen kepada para pemegang saham, walaupun kas defisit.
Maka, VOC diambil-alih (digantikan) oleh republik Bataaf (Bataafsche Republiek).
Republik Bataaf dihadapkan pada suatu sistem keuangan yang kacau balau. Selain karena peperangan sedang berkecamuk di Eropa (Continental stelstel oleh Napoleon), kebobrokan bidang moneter sudah mencapai puncaknya sebagai akibat ketergantungan akan impor perak dari Belanda di masa VOC yang kini terhambat oleh blokade Inggris di Eropa.
Sebelum republik Bataaf mulai berbenah, Inggris mengambil alih pemerintahan di Hindia Belanda.

Pendudukan Inggris (1811-1816)
Inggris berusaha merubah pola pajak hasil bumi yang telah hampir dua abad diterapkan oleh Belanda, dengan menerapkan Landrent (pajak tanah). Sistem ini sudah berhasil di India, dan Thomas Stamford Raffles mengira sistem ini akan berhasil juga di Hindia Belanda. Selain itu, dengan landrent, maka penduduk pribumi akan memiliki uang untuk membeli barang produk Inggris atau yang diimpor dari India. Inilah imperialisme modern yang menjadikan tanah jajahan tidak sekedar untuk dieksplorasi kekayaan alamnya, tapi juga menjadi daerah pemasaran produk dari negara penjajah. Sesuai dengan teori-teori mazhab klasik yang saat itu sedang berkembang di Eropa, antara lain :
a.Pendapat Adam Smith bahwa tenaga kerja produktif adalah tenaga kerja yang menghasilkan benda konkrit dan dapat dinilai pasar, sedang tenaga kerja tidak produktif menghasilkan jasa dimana tidak menunjang pencapaian pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, Inggris menginginkan tanah jajahannya juga meningkat kemakmurannya, agar bisa membeli produk-produk yang di Inggris dan India sudah surplus (melebihi permintaan).
b.Pendapat Adam Smith bahwa salah satu peranan ekspor adalah memperluas pasar bagi produk yang dihasilkan (oleh Inggris) dan peranan penduduk dalam menyerap hasil produksi.
c.The quantity theory of money bahwa kenaikan maupun penurunan tingkat harga dipengaruhi oleh jumlah uang yang beredar.
Akan tetapi, perubahan yang cukup mendasar dalam perekonomian ini sulit dilakukan, dan bahkan mengalami kegagalan di akhir kekuasaan Inggris yang Cuma seumur jagung di Hindia Belanda. Sebab-sebabnya antara lain :
a.Masyarakat Hindia Belanda pada umumnya buta huruf dan kurang mengenal uang, apalagi untuk menghitung luas tanah yang kena pajak.
b.Pegawai pengukur tanah dari Inggris sendiri jumlahnya terlalu sedikit.
c.Kebijakan ini kurang didukung raja-raja dan para bangsawan, karena Inggris tak mau mengakui suksesi jabatan secara turun-temurun.
Cultuurstelstel
Cultuurstelstel (sistem tanam paksa) mulai diberlakukan pada tahun 1836 atas inisiatif Van Den Bosch. Tujuannya adalah untuk memproduksi berbagai komoditi yang ada permintaannya di pasaran dunia. Sejak saat itu, diperintahkan pembudidayaan produk-produk selain kopi dan rempah-rempah, yaitu gula, nila, tembakau, teh, kina, karet, kelapa sawit, dll. Sistem ini jelas menekan penduduk pribumi, tapi amat menguntungkan bagi Belanda, apalagi dipadukan dengan sistem konsinyasi (monopoli ekspor). Setelah penerapan kedua sistem ini, seluruh kerugian akibat perang dengan Napoleon di Belanda langsung tergantikan berkali lipat.
Sistem ini merupakan pengganti sistem landrent dalam rangka memperkenalkan penggunaan uang pada masyarakat pribumi. Masyarakat diwajibkan menanam tanaman komoditas ekspor dan menjual hasilnya ke gudang-gudang pemerintah untuk kemudian dibayar dengan harga yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Cultuurstelstel melibatkan para bangsawan dalam pengumpulannya, antara lain dengan memanfaatkan tatanan politik Mataram–yaitu kewajiban rakyat untuk melakukan berbagai tugas dengan tidak mendapat imbalan–dan memotivasi para pejabat Belanda dengan cultuurprocenten (imbalan yang akan diterima sesuai dengan hasil produksi yang masuk gudang).
Bagi masyarakat pribumi, sudah tentu cultuurstelstel amat memeras keringat dan darah mereka, apalagi aturan kerja rodi juga masih diberlakukan. Namun segi positifnya adalah, mereka mulai mengenal tata cara menanam tanaman komoditas ekspor yang pada umumnya bukan tanaman asli Indonesia, dan masuknya ekonomi uang di pedesaan yang memicu meningkatnya taraf hidup mereka. Bagi pemerintah Belanda, ini berarti bahwa masyarakat sudah bisa menyerap barang-barang impor yang mereka datangkan ke Hindia Belanda. Dan ini juga merubah cara hidup masyarakat pedesaan menjadi lebih komersial, tercermin dari meningkatnya jumlah penduduk yang melakukan kegiatan ekonomi nonagraris.
Jelasnya, dengan menerapkan cultuurstelstel, pemerintah Belanda membuktikan teori sewa tanah dari mazhab klasik, yaitu bahwa sewa tanah timbul dari keterbatasan kesuburan tanah. Namun disini, pemerintah Belanda hanya menerima sewanya saja, tanpa perlu mengeluarkan biaya untuk menggarap tanah yang kian lama kian besar. Biaya yang kian besar itu meningkatkan penderitaan rakyat, sesuai teori nilai lebih (Karl Marx), bahwa nilai leih ini meningkatkan kesejahteraan Belanda sebagai kapitalis.